Selasa, 29 November 2016

ILMU PENDIDIKAN DASAR (MINAT BACA)

PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN KELAS UNTUK MENINGKATKAN MINAT MEMBACA SISWA
TUGAS KELOMPOK
Disusun sebagai tugas Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Dasar (JG512)
Pengampu: Prof. Dr. Slameto, M.Pd. 
Oleh:
Kelompok 4
Krisma Ayu Putri Sejati       (292016082)
Yosse Dwi Saputra                (292016083)
Wahyu Wulandari                (292016084)
Ratna Dwi Anifa                   (292016085)
RS16D
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
2016


ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini untuk menumbuhkan minat membaca buku siswa kelas 5 SDN Bringin 02 serta memberikan solusi dalam menumbuhkan minat membaca siswa kelas 5 SDN Bringin 02. Dalam penelitian ini, menggunakan metode kualitatif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer didapat di tempat penelitian melalui wawancara langsung terhadap guru. Sedangkan data sekunder diperoleh dari buku dan internet. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Menurut Darmono (2007:217) faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.  Faktor intern adalah faktor yang ada dalam masing-masing diri individu, yaitu faktor jasmani dan faktor psikologi. Faktor ekstern terdiri dari faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sekolah menjadi salah satu pendukung dalam menyediakan fasilitas untuk menumbuhkan minat membaca pada siswa. A.S Moenir (1983:197) menyatakan bahwa “fasilitas adalah segala sesuatu yang digunakan, dipakai, ditempati, dan dinikmati oleh orang pengguna”. Lebih lanjut A.S Moenir (1983:198) menyatakan bahwa fasilitas fisik dan fasilitas non fisik. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan tertanggal 11 Maret No. 0103/0/1981, perpustakaan sekolah adalah sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar, pusat penelitian sederhana, pusat baca guna menambah ilmu pengetahuan dan rekreasi.
Kata kunci :minat, baca, siswa






PENDAHULUAN
Minat membaca menurut Kamah (2002:5) merupakan perhatian dan kesukaan (kecenderungan hati untuk membaca) yang mana minat akan membaca perlu dipupuk, dibina, diarahkan, dan dikembangkan dari sejak usia dini, remaja, sampai usia dewasa yang melibatkan peranan orangtua, masyarakat, dan sekolah. Ini dikarenakan membaca merupakan hal yang penting bagi kehidupan umat manusia. Karena membaca dijadikan sebagai jendela dunia, yang memberi pengetahuan baik secara ilmiah atau tidak bagi semua kalangan. Berbeda dengan hal ini yang bertolak belakang dengan minat membaca buku pada siswa kelas 5 SDN Bringin 02 yang mulai menurun. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor salah satunya siswa tidak dibimbing sejak mereka kecil untuk membaca buku. Faktor lain yang menyebabkan minat membaca siswa kelas 5 SDN Bringin 02 kurang diperpustakaan sekolah karena buku yang disediakan tidak memadai juga ruang perpustakaan yang tidak nyaman sehingga banyak siswa yang jarang mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku. Letak perpustakaan yang tidak strategis juga menyulitkan siswa untuk datang ke perpustakaan tersebut. Buku diperpustakaan juga tidak menarik perhatian siswa karena tulisan yang banyak dan berhimpit-himpit. Indikator siswa dapat dikatakan memiliki minat membaca buku apabila siswa tersebut mengartikan membaca buku sebagai suatu kebutuhan bukan paksaan, maksudnya mereka membaca buku bukan dipaksa tetapi karena kesadaran diri sendiri bahwa membaca buku itu penting (www.scribd.com). Mereka memanfaatkan perpustakaan dan waktu luang untuk menambah pengetahuan mereka lewat membaca buku. Mereka membuat tugas sekolah juga didasarkan pada buku. Untuk mencapai indikator siswa yang memiliki minat membaca buku , peneliti memberikan solusi dengan cara membuat perpustakaan kelas dengan harapan siswa memiliki kesadaran diri betapa pentingnya membaca buku.
            Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, muncul masalah yang menyebabkan kurangnya minat membaca buku siswa kelas 5 SDN Bringin 02  dan mengetahui cara menumbuhkan minat membaca buku siswa kelas 5 SDN Bringin 02.
            Tujuan penelitian ini untuk menumbuhkan minat membaca buku siswa kelas 5 SDN Bringin 02 serta memberikan solusi dalam menumbuhkan minat membaca siswa kelas 5 SDN Bringin 02.

METODE
            Dalam penelitian ini, menggunakan metode kualitatif. Menurut Sugiyono (2011:09) metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebaga instrumen kunci. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Bringin 02 berlokasi di Jl.Diponegoro 80, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Penelitian ini terfokus pada  siswa kelas 5 SDN Bringin 02 yang berjumlah 25 siswa. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui penyebab menurunnya minat membaca buku dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian dilakukan pada hari Jum’at, tanggal 23 September 2016. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer didapat di tempat penelitian melalui wawancara langsung terhadap guru. Sedangkan data sekunder diperoleh dari buku dan internet. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Orang yang menjadi sumber data adalah kepala sekolah dan guru. Wawancara ini dengan melakukan tanya jawab kemudian informasi yang kita dapatkan akan menjadi sumber dari penelitian yang penulis akan lakukan. Untuk menjawab rumusan masalah perlu menentukan teknik analisa yang tepat. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis terjun langsung ke lapangan.Wawancara kepada petugas perpustakaan tentang buku yang diminati siswa, usaha yang dilakukan untuk meningkatkan minat membaca siswa dan meminta data pengunjung perpustakaan. Wawancara kepada guru kelas 5 tentang bagaimana minat membaca siswa dan apakah tugas yang diberikan oleh guru harus didasarkan pada buku.

TINJAUAN PUSTAKA
Minat membaca menurut Kamah (2002:5) merupakan perhatian dan kesukaan (kecenderungan hati untuk membaca) yang mana minat akan membaca perlu dipupuk, dibina, diarahkan, dan dikembangkan dari sejak usia dini, remaja, sampai usia dewasa yang melibatkan peranan orangtua, masyarakat, dan sekolah. Ini dikarenakan membaca merupakan hal yang penting bagi kehidupan umat manusia. Selain membaca buku dapat dilakukan diperpustakaan sekolah, dapat juga dilakukan diperpustakaan kelas. Perpustakaan kelas merupakan bagian dari perpustakaan sekolah yang berada disudut kelas. Perpustakaan kelas berarti membuat buku-buku bacaan lebih berguna. Buku tersebut akan memiliki peluang yang lebih besar untuk dibaca. Adanya perpustakaan kelas berpengaruh dengan minat membaca buku pada siswa. Pengaruh yang ditimbulkan salah satunya siswa menjadi tertarik untuk membaca buku karena letaknya yang mudah dijangkau. Pengadaan perpustakaan kelas menjadikan siswa meluangkan waktu untuk membaca buku dikelas daripada bermain karena buku yang tersedia bergambar dan tulisannya tidak berhimpit-himpit. Selain itu, guru ikut memberi dorongan untuk diadakannya perpustakaan kelas. Indikator siswa dapat dikatakan memiliki minat membaca buku apabila siswa tersebut mengartikan membaca buku sebagai suatu kebutuhan bukan paksaan, maksudnya mereka membaca buku bukan dipaksa tetapi karena kesadaran diri sendiri bahwa membaca buku itu penting (www.scribd.com).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan dari hasil wawancara dengan wali kelas 5 bahwa siswa sekolah dasar cenderung berminat dengan buku yang bergambar. Sedangkan buku yang tulisannya berhimpit-himpit akan membuat siswa malas membaca buku, jangankan untuk membaca melihatnya saja sudah tidak berminat. Perpustakaan sekolah yang jauh dari kelas-kelas membuat  siswa enggan untuk mengunjungi  perpustakaan sekolah. Buku yang tidak menarik dan kuno, juga  membuat minat siswa untuk datang ke perpustakaan berkurang. Selama ini petugas perpustakaan telah membuat poster untuk mengajak siswa datang keperpustakaan namun hasilnya masih jauh dari kata berhasil. Upaya  yang dilakukan dari pihak sekolah adalah  mengajukan proposal untuk mendapatkan bantuan buku dari pemerintah.
            Hasil wawancara dengan petugas perpustakaan terkait penyebab kurangnya minat membaca buku pada siswa disebabkan karena buku yang tersedia masih kurang dan kuno. Sedangkan wawancara yang terkait dengan upaya sekolah  untuk menumbuhkan minat membaca siswa yaitu menunggu bantuan buku dari pemerintah. Selama menunggu bantuan buku dari pemerintah, sekolah melakukan upaya guru member tugas yang bersumber dari internet berupa buku elektronik.
Sedangkan melalui hasil dari penyebaran angket seperti di bawah ini,
Pernyataan
Kriteria
  1. Apakah siswa setuju dengan adanya perpustakaan kelas.
  2. Siswa menjadi berminat membaca buku dengan adanya perpustakaan kelas.
Setuju

Setuju
Mendapatkan hasil dari 25 siswa di kelas 5, bahwa 16 siswa setuju dan 9 siswa tidak setuju dengan adanya perpustakaan kelas. Siswa yang tidak menyetujui memiliki alasan buku tidak bervariasi Sehingga peneliti melakukan pengembangan perpustakaan kelas dengan menggunakan pipa air sebagai bahan utama. Pipa berukuran 50cm berjumlah 3 buah, dilubangi  bagian tengahnya. Pipa dilubangi dengan panjang 40cm dan lebar 10cm. Sisi kanan dan kiri diberi jarak masing-masing 5cm, dengan tujuan agar buku tidak jatuh. Bagian kanan dan kiri pipa ditutup menggunakan kertas lipat berwarna hijau,pink, dan biru. Kemudian pipa ditempelkan di dinding kelas dengan menggunakan paku beton. Sentuhan akhir , peneliti menghias pipa dengan gliter berwarna emas dan biru agar terlihat menarik.

PEMBAHASAN
Menurut Darmono (2007:217) faktor-faktor yang mempengaruhi minat baca digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.  Faktor intern adalah faktor yang ada dalam masing-masing diri individu, yaitu faktor jasmani dan faktor psikologi. Faktor ekstern terdiri dari faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Faktor intern meliputi faktor jasmani dan faktor psikologi. Faktor jasmani yang terdiri dari kesehatan individu, artinya tidak memiliki gangguan yang dapat menghambat proses membaca buku. Faktor psikologi terdiri dari intelegensi (pengetahuan), bakat, motif,  kematangan, dan kesiapan.  Intelegensi adalah suatu kemampuan untuk berfikir secara rasional, tidak dapat diamati secara langsung dan bersifat abstrak. Bakat merupakan potensi bawaan sejak lahir yang dimiliki setiap manusia dan dapat dikembangkan melalui proses belajar atau pelatihan. Dalam hal ini, bakat membaca buku  akan berkembang apabila setiap individu rajin membaca buku secara terus-menerus.  Berbeda dengan bakat, motif untuk membaca buku muncul karena adanya tujuan tertentu yaitu berupa tugas yang didasarkan pada buku, rasa ingin tahu tentang isi buku, dan menambah ilmu pengetahuan. Sedangkan, kematangan dan kesiapan dalam membaca buku perlu dimiliki oleh setiap pembaca buku sehingga buku yang dibaca dapat dipahami dan bermanfaat.
Adapun faktor ekstern meliputi faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat. Faktor keluarga yang terdiri dari cara orang tua mendidik, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan sekolah, masyarakat. Keluarga menjadi peranan penting dalam tumbuhnya minat membaca buku pada setiap anak terutama cara orang tua mendidik agar membaca buku menjadi kebiasaan bagi setiap anak, dimulai dari mendongengkan sejak kecil. Terciptanya suasana rumah yang nyaman dan kemampuan keluarga untuk membeli buku-buku mendorong anak memiliki kemauan membaca buku. Apabila anak telah memiliki kemauan membaca buku seharusnya orang tua memberikan dukungan berupa pengertian tentang buku yang dibaca oleh anak. Faktor sekolah terdiri dari relasi guru dan karyawan dengan siswa, disiplin sekolah, fasilitas sekolah khususnya perpustakaan, dan keadaan gedung. Kerjasama yang baik antara guru dan karyawan perpustakaan dapat mendorong minat membaca buku pada siswa, contohnya guru mengajak siswa untuk melakukan kunjungan ke perpustakaan dan memberikan tugas berdasarkan buku-buku yang ada diperpustakaan. Hal yang tidak kalah penting dalam menunjang minat membaca buku yaitu fasilitas sekolah khususnya perpustakaan, serta keadaan gedung yang layak. Faktor masyarakat terdiri dari media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan. Berteman ataupun berkumpul dengan orang yang gemar membaca secara tidak langsung akan menularkan sifat gemar membaca tersebut sehingga pergaulan memiliki pengaruh dalam menumbuhkan minat membaca buku pada setiap anak. Membaca tidak harus didasarkan pada buku-buku pelajaran namun membaca koran ataupun majalah sudah merupakan usaha untuk menumbuhkan mintat membaca buku pada anak.
Sekolah menjadi salah satu pendukung dalam menyediakan fasilitas untuk menumbuhkan minat membaca pada siswa. A.S Moenir (1983:197) menyatakan bahwa “fasilitas adalah segala sesuatu yang digunakan, dipakai, ditempati, dan dinikmati oleh orang pengguna”. Lebih lanjut A.S Moenir (1983:198) menyatakan bahwa fasilitas fisik dan fasilitas non fisik. Fasilitas fisik adalah segala sesuatu yang berupa benda yang dapat memudahkan saat melakukan usaha seperti ruang perpustakaan, peralatan perpustakaan, dan koleksi buku. Pengertian fasilitas non fisik adalah kenyamanan ruang perpustakaan sebagai upaya meningkatkan minat baca siswa.
Pengadaan perpustakaan di sekolah menjadi wadah sekaligus penunjang untuk menumbuhkan minat membaca buku pada siswa. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan tertanggal 11 Maret No. 0103/0/1981, perpustakaan sekolah adalah sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar, pusat penelitian sederhana, pusat baca guna menambah ilmu pengetahuan dan rekreasi. Perpustakaan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung perpustakaan memberikan kemudahan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Sedangkan perpustakaan sebagai pusat penilitian sederhana dimaksudkan untuk memperoleh suatu teori dalam penelitian karena diperpustakaan berbagai informasi bisa diperoleh. Pemanfaatan perpustakaan sebagai tempat untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta mendapatkan berbagai macam informasi dari buku. Siswa juga dapat menikmati rekreasi diperpustakaan dengan cara membaca dan mengakses segala informasi hiburan, seperti novel, majalah, dongeng, dan cerpen.
Indikator-indikator dari perpustakaan yaitu ruang perpustakaan seharusnya berdekatan dengan kelas-kelas, jauh dari keramaian, perlu diberi ventilasi udara agar tidak pengap, dan pencahayaan ruangan yang cukup terang. Ada beberapa aspek penataan ruang perpustakaan, yaitu aspek fungsional, semua benda yang ditempatkan di ruang perpustakaan harus memiliki fungsi dan kegunaan. Jangan sampai ada benda yang diletakkan diperpustakaan namun tidak memiliki fungsi karena akan mengganggu dan mempersempit ruang perpustakaan, kedua aspek psikologis pengguna, aspek ini berhubungan dengan kenyamanan dan ketenangan pengguna perpustakaan, karena dengan kenyamanan dan ketenangan pengguna perpustakaan akan menjadi betah ketika membaca ataupun mengunjungi perpustakaan selanjutnya aspek yang menunjang keindahan penataan ruang perpustakaan yaitu aspek estetika. Penataan ruangan serta pemilihan warna perlu diperhatikan agar ketika dipandang terlihat menarik. Adanya lukisan dan aksesoris akan menjadi pelengkap sehingga perlu ada. Terakhir adalah aspek keamanan bahan pustaka yang berhubungan dengan keamanan bahan pustaka, keamanan menjadi hal yang penting . Bahan bacaan tidak mudah sobek dan kuat menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Koleksi buku bacaan hendaknya dipilih secara cermat dan disesuaikan dengan standar kebutuhan pemakai perpustakaan. Murid-murid di sekolah mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perpustakaan sekolah harus menyajikan buku bacaan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Koleksi buku perpustakaan sekolah dapat dikelompokkan atas buku wajib atau buku yang diperoleh dari pemerintah, buku-buku jenis fiksi serta buku bergambar yang dapat menarik minat anak dan mengembangkan imajinasi anak didik, buku popular (umum) yang berisi ilmu pengetahuan secara umum, buku geografi buku ini berisi informasi tentang daerah, iklim, cuaca, ketinggian tempat, bahan tambang, hutan, laut, gunung, untuk daerah tertentu, buku jenis serial yaitu berupa majalah dan koran.
Pengadaan koleksi buku bacaan di perpustakaan dapat dilakukan dengan beberapa cara :
  1. Pembelian
Pembelian adalah jalan yang paling ideal dalam pengadaan koleksi buku bacaan, sebab ada kebebasan menentukan pilihan buku bacaan yang dikehendaki.
  1. Hadiah
Hadiah atau pemberian dapat diperoleh dari departemen/instansi pemerintah maupun swasta, perseorangan sebagai kenang-kenangan tanda kasih dan sebagainya.
c.       Tukar-menukar
Bagi sekolah yang mampu menerbitkan buku atau memiliki penerbit sendiri buku-buku atau judul yang diterbitkan dapat dipergunakan untuk tukar-menukar dengan penerbit lain. Hasil tukar-menukar itu dijadikan tambahan koleksi perpustakaan.
Selain ruang perpustakaan dan koleksi buku yang memadai, perpustakaan memerlukan sejumlah peralatan untuk pelayanan kepada pengguna maupun untuk kegiatan rutin perpustakaan. Peralatan perpustakaan meliputi:
a.     Rak buku
b.     Rak surat kabar
c.     Rak majalah
d.     Kursi petugas
e.      Almari
f.      Kotak kartu peminjam
g.      Meja dan kursi untuk membaca
Kenyataannya,  perpustakaan sekolah yang diteliti belum memenuhi standart. Tempat yang terbatas dan jauh dari ruang kelas menjadi faktor mendasar. Sekolah dasar negri selama ini hanya mengandalkan buku-buku dari bantuan pemerintah sehingga buku diperpustakaan jumlahnya sedikit dan tidak update. Variasi buku diperpustakaan akan membantu siswa untuk berminat membaca buku. Selain itu perpustakaan  jauh dari jangkauan siswa karena  berada di lantai dua sehingga menjadikan siswa enggan untuk mengunjungi perpustakaan. Sekolah telah mengupayakan dengan membuat poster untuk mengajak siswa mengunjungi dan membaca buku di perpustakaan namun hasilnya belum maksimal.
Ada banyak faktor yang menyebabkan kurangnya minat membaca buku pada siswa sekolah dasar. Menumbuhkan minat membaca buku pada siswa dapat dilakukan dengan cara menyediakan beragam buku diperpustakaan sekolah dengan tujuan untuk menarik minat membaca buku diperpustakaan. Buku-buku yang beragam dapat berupa buku bergambar, novel, komik, majalah, dan cerpen. Selain menyediakan buku-buku yang beragam, perpustakaan  yang  nyaman juga menjadi hal penting. Sebagai seorang guru sudah seharusnya memberikan pemahaman kepada siswa akan pentingnya membaca buku. Dengan memberikan pemahaman tentang pentingnya membaca buku siswa akan lebih tergerak hatinya untuk membaca buku. Apabila guru memberi tugas yang berkaitan dengan mencari informasi diperpustakaan akan membuat siswa penasaran dan mencari segala informasi diperpustakaan tersebut lewat membaca buku. Buku merupakan jendela dunia sehingga dengan membaca buku akan mendapatkan  manfaat, selain menambah ilmu pengetahuan membaca buku juga dapat menambah wawasan. Membuat perpustakaan kelas akan menjadi alternatif untuk menumbuhkan minat membaca buku pada siswa. Perpustakaan kelas adalah perustakaan yang berada dikelas sehingga mudah dijangkau oleh siswa. Tujuan adanya perpustakaan kelas untuk mempermudahkan siswa membaca buku tanpa harus keperpustakaan sekolah. Dengan adanya perpustakaan kelas, siswa di sekolah dasar yang diteliti menjadi tertarik untuk membaca buku. Saat penelitian, siswa di sekolah dasar tersebut masih mempunyai minat membaca buku yang kurang. Namun, setelah ada perpustakaan kelas siswa memiliki minat membaca buku yang berkembang dari sebelumnya.  Adapun fungsi perpustakaan kelas yaitu sebagai fungsi edukatif karena menyediakan buku-buku fiksi dan nonfiksi. Dengan adanya buku-buku tersebut membuat siswa membiasakan belajar secara mandiri dan dapat menumbuhkan minat membaca buku dalam diri siswa. Fungsi perpustakaan kelas yang kedua yaitu fungsi informatif, menyediakan informasi yang dibutuhkan sebagai seorang siswa tetapi atas dasar dari perintah guru. Fungsi yang ketiga adalah fungsi riset, memudahkan guru dalam member tugas kepada siswa terkait pembelajaran berdasarkan buku.

KESIMPULAN
            Ada dua faktor yang mempengaruhi minat membaca buku pada anak yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern meliputi jasmani dan psikologi. Sedangkan faktor ekstern meliputi keluarga, masyarakat, dan sekolah. Sekolah merupakan salahsatu fasilitas yang mempengaruhi minat membaca buku karena adanya perpustakaan. Perpustakaan seharusnya dekat dengan kelas serta peralatan yang memadai. Koleksi buku yang bervariasi akan menarik minat membaca pada siswa. Pengadaan buku-buku dapat diperoleh dari pembelian, hadiah, dan tukar-menukar. Hal itu bertolak belakang dengan perpustakaan sekolah yang diteliti, karena perpustakaan jauh dari jangkauan siswa yang berada dilantai dua serta buku yang kurang beragama dan bervariasi. Alternatif  yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat membaca pada siswa dengan membuat perpustakaan kelas. Perpustakaan kelas tidak harus mahal karena dapat dibuat dengan menggunakan bahan bekas.
            
DAFTAR PUSTAKA
www.scribd.com di unduh pada 25 September 2016
Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif  Dan R&D. Alfabeta: Bandung
Darmono, 2007. Perpustakaan Sekolah : Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja. Grasindo: Jakarta
Idris Kamah, 2002. Pedoman Pembinaan Minat Baca. Perpustakaan RI: Jakarta

Moenir, H.A.S. 1983. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. CV Alfabeta: Jakarta













Lampiran
Gambar 1 : Seorang siswa mengambil buku dari perpustakaan kelas yang dibuat oleh peneliti.
Gambar 2 :perpustakaan kelas yang dibuat oleh peneliti dengan menggunakan pipa air.
Gambar 3 : Siswa-siswa yang antusias untuk membaca buku setelkah diadakannya perpustakaan kelas.

Gambar 4 : peneliti setelah melakukan wawancara kepada petugas perpustakaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar